imean give up on that job and look for new one.. normally after interview, i will wait for at least 1 week before i start apply for new job. no people do that la. of coz do all interview within that week then wait. you still can quit during probation to go other better offer. only need 1 day notice. Card PM. Setelahmemiliki cukup pengetahuan umum tentang segala hal, maka tugas selanjutnya adalah menciptakan inovasi. inovasi dalam berarsitektur bukan dikatakan bahwa kita harus menciptakan sesuatu yang belum pernah dibuat orang lain. namun, bagaimana kita memberi solusi dan desain terbaru dari yang sudah ada dengan inovasi-inovasi yang kita buat. Pada23 Mac 2021, pukul 7.40 Waktu Eropah Timur (UTC+2), sebuah kapal kontena bernama Ever Given terdampar di kilometer 151 Terusan Suez di Mesir. Kapal tersebut hilang kawalan selepas ditimpa ribut pasir dan angin kencang dengan kelajuan 50 kilometer sejam (27 knot). Ever Given kemudian merempuh dasar terusan dan terbabas sehingga menghalang semua kapal yang ingin melalui Terusan Suez. Liveis to take and give Kamis, 28 November 2013. *Untuk tuts dari tombol esc sampai Delete langkahnya bukan dari kiri atau kanan tapi dari bawah dan atas.* Setelah terbuka, lakukan penekanan pada bagian karetnya tersebut, apabila bisa berfungsi maka bisa dilakukan pembongkaran, kalau tidak lebih baik lanjutkan ke service center laptop atau JIKABUKAN APLIKASI "GIVE AWAY" Oke Mungkin ada yang sudah tidak sabar untuk Download Ashampoo Photo Converter 1.0.1 Seharga $9.99 Secara Gratis ! " Semoga Bermanfaat :) JIKA GIVE AWAY Oke Mungkin ada yang sudah tidak sabar untuk Download Ashampoo Photo Converter 1.0.1 Seharga $9.99 Secara Gratis ! ( Sampai Tanggal 11-5-2014 sebelum jam 15Likes, 0 Comments - Heri Purnomo (@herihp) on Instagram: "Give and take bukan take and give, jangan kebalik, sering memberi sering menerima, positif maupun" Hyper Materialistic - matre ekstrim akut kalau yang ini, udah ekstrem banget, udah mirip Tenryuubito di One Piece. mungkin masih ada keturunan dengan Firngaun kali ya.. kartuarisan dengan strategi take and give pada siswa kelas IV SD Al Islam 3, Gebang Surakarta tahun ajaran 2012/2013. H 1: Ada perbedaan hasil belajar IPS yang menggunakan strategi kartu arisan dengan strategi take and give pada siswa kelas IV SD Al Islam 3, Gebang Surakarta tahun ajaran 2012/2013. b. Uji Statistik t = X 1− 2X 2 S p 2 (1 n1 VideoTikTok dari yafet suoth (@shendy_yafet): "Kunci hubungan yg sukses adalah KEJUJURAN,krna dalam hubungan bukan take and give melainkan give and give.#fyp#salingmenjagahati#kejujuranitupenting". suara asli - yafet suoth. tXlY. Orang-orang juga menerjemahkan Salah satu dari sekian banyak pelajaran adalah the power of take and of the greatest lessons we have learned is the importance of give and hubungan yang sehat adalah hubungan yangA healthy relationship is about give and give,Pendekatan politik dalam ini tidak selalu terkait dengan negosiasi yang bersifat take and and give antar Negara tentang manajemen pada saat ini sedang and give between States concerning the management is currently access doesn'tDemikian seterusnya sampai tiap peserta dapat saling memberi danAnd so on until each participant can give each other andNamun, pihaknya juga menjelaskan mereka tidak akan mengupayakan solusi terhadap gesekan perdagangan dengan membuat konsensi tidak masuk akal,dan kesepakatan apapun harus melibatkan timbal balik take and give dari kedua belah pihak, it has also made it clear that it will not seek a solution to the trade frictions by making unreasonable concessions,and any agreement has to involve give and take from both sides,” it said. Belum lama ini, ada seorang teman curhat. Dia mengeluh tentang pekerjaannya di kantor. Dia bilang bosan, capek dan rasanya ingin berhenti saja dari pekerjaannya yang sekarang. Saya tanya kenapa bisa begitu? “Andaikan saja gajiku tidak segini, dan naik dua kali lipat, aku pasti akan semangat untuk bekerja, dan aku pasti akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Lha… sekarang, ngapain capek-capek kerja keras, tidak sepadan dengan gajiku yang cuma sedikit.” Saya cuma diam mendengar jawabannya. Ya, aku tahu orang kerja itu pasti capek, dan terkadang juga timbul rasa bosan, apalagi bila kita merasa apa yang didapatkan kurang “memadai” dibanding kerja keras kita. Tapi, apakah benar, bahwa kita harus dibayar dua kali lipat dulu, baru kita semangat dan akan memberikan yang terbaik dalam pekerjaan kita? Dari obrolan itu, aku mendapat inspirasi untuk membuat tulisan ini. Karena menurutku ada yang “salah” dengan prinsip yang diajukan oleh temanku tadi. Kepada teman baikku yang aku maksud, mohon maafkan, bukan aku menyalahkan, aku hanya sekadar bertukar pikiran dan pendapat, seperti yang biasa kita lakukan, setuju kan? Memang dalam kehidupan sehari-hari, cukup banyak kita menemukan orang-orang yang berprinsip seperti teman saya tadi. Bahkan saya juga terkadang suka berpikir seperti itu. Yaitu, bahwa kita baru akan memberikan sesuatu yang “baik”, jika kita telah menerima “bayarannya”. Prinsip seperti ini, kita bisa temukan hampir di setiap bidang. Baik di perusahaan, birokrasi, organisasi-organisasi, sampai kepada hubungan antar sesama. Bahkan, aku sering mendengar, seorang laki-laki berkata tentang kekasihnya “Aku akan setia kepadanya, kalau dia juga setia sama aku”. Semua terdengar senada; bahwa kita harus menerima lebih dulu, baru kita akan memberi! Seorang karyawan baru akan bekerja dengan baik, jika gaji dan tunjangannya naik. Seorang pemimpin baru akan memperhatikan bawahannya jika bawahannya “memberi” sesuatu terlebih dulu. Seorang suami akan memperhatikan kebutuhan istrinya, jika telah mendapatkan “pengabdian tulus” dari istrinya. Semua anggota sebuah organisasi ngotot mendapatkan “jatah” terlebih dahulu, baru kemudian bersedia memberi kontribusi yang berarti untuk organisasi itu. Apa jadinya kehidupan ini jika kita semua berpikir seperti itu? Saya yakin jika terjadi demikian, tidak akan ada kemajuan yang tercipta, tidak akan ada inovasi dan kreatifitas yang muncul, tidak ada inisiatif demi sebuah perbaikan. Kita memang sudah terlanjur terbiasa dengan prinsip demikian, sampai-sampai ada sebuah istilah yang sangat populer dalam hal hubungan antar sesama “TAKE AND GIVE!” Take dulu, baru Give. Menerima dulu, baru memberi. Sayangnya, hukum alam tidaklah demikian! Jika kita ingin menerima, kita harus memberi lebih dulu. Jika kita ingin dihormati, kita harus lebih dulu menghormati orang lain. Jika kita ingin dibayar lebih mahal, kita harus bekerja dulu lebih baik. Jika kita mau mendapatkan pengabdian sang istri, kita harus lebih dulu menyayangi dan memperhatikan kebutuhannya dengan baik. Dan seterusnya. Tidak bisa, sampai kapanpun, hukum ini tidak bisa dibalik. Bukankah, kita selalu dianjurkan untuk menjadi “tangan yang diatas”? Bukankah itu berarti kita harus memberi terlebih dahulu, kemudian baru kita menerima? Untuk itu, mari kita, sejak sekarang belajar untuk selalu berusaha memberi yang terbaik, lalu kita meyakini bahwa pasti kita akan menerima hasil yang terbaik kemudian. Kita rubah “take and give”, menjadi “give and take”. Hanya dengan cara ini, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sempurna, kesuksesan yang sesungguhnya, dan keberkahan dalam hidup yang tiada tara. Jadi bagaimana saudaraku? Pilih “take and give” atau “give and take”? Salam. Kalian sering mendengar tentang konsep “take and give” kan? Beberapa waktu lalu saya juga terlibat perbincangan mengenai ini dengan sahabat saya. Menurutnya hubungan haruslah “take and give” agar seimbang, katanya. Saya yakin banyak juga yang mengiyakan apa pendapatnya. Saya pun dulu mengira demikian. Take and give menjadi wajar dalam suatu hubungan. Hubungan apa saja, entah dengan pasangan, orang tua, sahabat, dalam pekerjaan ataupun yang lainnya. Namun seiring waktu, saya belajar..nampaknya “take and give” menjadi semakin terlalu memberatkan. Kemudian saya belajar untuk bergeser ke dalam konsep “Give and Give” “Oh iya iya..kamu kan udah nggak butuh “take” lagi ya? “ kilah sahabat saya. Nggak begitu juga sih, hanya saja..memberi dengan rumusan memberi dan harus menerima nampaknya menjadi semakin berat. Bukahlah lebih ringan bila bergeser menjadi memberi dan memberi, tak perlu tanpa banyak memikirkan tentang harus menerima. Menurut saya, ada perbedaan fundamental di antara keduanya. Mungkin perbedaan itu terletak pada niat. Niat dalam hati, jarang sekali kita meneliti niat-niat dalam hati kita pada apa yang kita kerjakan, apa yang kita berikan. Padahal niat, yang tersembunyi itu, seringkali menjadi landasan mengapa kita berbuat sesuatu. Memberi dengan berharap menerima, bukankah menjadi begitu memberatkan? “If all your “giving” is about “getting” think how fearful you will become?” Susan Jeffers Jika kita memberikan sesuatu, dengan harapan dapat menerima..bayangkan betapa diri menjadi dihinggapi banyak kecemasan, banyak pengharapan, dan banyak kekecewaan ketika yang terjadi tidak sesuai dengan harapmu. Sedangkan memberi dengan sekedar memberi karena kasih, bukankah terasa makin meringankan? Ini bukan bahasan tentang sok mulia atau sebagainya. Ini soal ketentraman jiwa. Bukankah dengan memberi saja tanpa harap menerima membuat perasaan kita menjadi semakin baik dan semakin bahagia? Sesederhana itu sebenarnya. Saya jadi ingat saat mendengarkan sebuah ceramah tahun lalu tentang zakat, tentang memberikan sebagian rizki kita. Baru kala itu saya mendengar sebuah pernyataan yang tak biasa saya dengarkan mengenai ceramah-ceramah zakat. Dulu sering kali saya mendengar ceramah seperti misalnya Zakat itu bisa melancarkan rejeki, mana ada kau lihat orang zakat atau memberi lalu jadi bangkrut? Atau kalau sedekah sekian bisa lekas kaya, bisa cepat dapat jodoh..bla bla..bla.. Lalu kita memberi ataupun berbuat baik karena ada iming iming belaka? Ah, bukankah sering kalian mendengar kalimat-kalimat seperti di atas itu? “Manfaat zakat yang utama itu menentramkan hati,” saya masih ingat kalimat itu diucapkan saat ceramah. Nyes rasanya, kenapa jarang sekali yang menyentuh sisi ini? Memberikan sesuatu ternyata pada dasarnya membuat diri menjadi semakin bahagia. Semakin ringan, dan semakin tentram. Memberi dalam hal ini bukan hanya memberikan barang, uang atau materi, tapi juga memberikan waktu, informasi, perhatian, kasih sayang. When you give from a place of love, rather than from a place of expectation. More usually comes back to us than we could ever have imagined Susan Jeffers Yah, walaupun seringkali dengan memberi kita menerima jauh..jauh lebih banyak daripada apa yang kita berikan, namun rasanya akan lebih meringankan dan menentramkan bila memberi tanpa pengharapan. “Nggak fair dong, misal dalam hubungan..rasanya kita tuh kasih..kasih terus. Memberikan banyak kompromi, kasih perhatian..kasih hadiah bla..bla..tapi dianya kayak nggak tau terimakasih. Dianya nggak berubah juga.” Mungkin ada ya yang selintasan berpikir demikian. Atau mengalami hal yang demikian. Menurut saya sih, memberi itu satu hal..kemudian bagaimana engkau memutuskan perlakuan ataupun keputusan pada orang lain itu sepenuhnya adalah hal yang lain lagi. Ada pertimbangan, ada logika, ada nurani. Dan itu terserah bagaimana pilihan pilihan yang kamu ambil. Hubungan bukan bisnis sih, kalau menurut saya. Well, kadang mungkin konsep ini terlihat sok baik dan sok polos..padahal sih intinya cuma ingin membuat diri lebih ringan dan lebih tentram. Saya pun masih belajar, kadang konsep masih hanya dalam tataran konsep, sedangkan praktiknya masih tersuruk suruk. Namun bukankah yang terpenting kita belajar dan terus berjalan? Mari. Glasgow menjelang maghrib di musim gugur. Dengan kadar rindu yang agak terlalu. 3 Okt 2015.